jika pagi ini (begitu juga pagi-pagi lainnya dalam bulan ramadhan) kita harus bangun lebih pagi untuk bersahur, menantikan subuh berjamaah di masjid kemudian berangkat bekerja, tentu saja membutuhkan usaha dan niat yang teguh dalam rangka memenuhi ibadah puasa kita. tentu saja tak boleh ada keluhan yang mengisi hari-hari kita karena kita yakin keluhan itu akan merusak makna puasa kita.
jika sepulang bekerja, kita bergumul dengan kemacetan demi mengejar waktu berbuka di rumah, kemudian menantikan shalat isya berjamaah di masjid yang disusul tarawih dan witir serta tadarus quran, tentu saja membutuhkan rasa senang dan ikhlas dalam rangka menggenapi ibadah puasa kita hari itu. tentu saja tak mengenal rasa letih dalam beribadah karena kita yakin bulan ramadhan adalah bulan obral pahala dari Allah.
kawan, sudah semestinya kita bersyukur, karena Allah masih membolehkan kita berpuasa, sementara banyak kawan-kawan kita yang sudah menghadap-Nya tak lagi duduk tarawih di samping kita; sementara banyak kawan-kawan kita yang harus menikmati masa sakit sehingga menghalangi mereka untuk berpuasa; sementara banyak kawan-kawan kita yang sepanjang tahun berpuasa karena tak cukup punya makanan untuk mengganjal perut mereka.
kawan, jangan berhenti bersyukur, karena puasa kita bulan ramadhan ini jika dilakukan dengan baik dan ikhlas akan menghapus dosa-dosa kita yang lalu dan yang akan datang. alhamdulillah.
IJS-14
13.9.06
berkomunikasi dengan Allah
Kawan, komunikasi adalah cara yang digunakan antara manusia untuk menyampaikan informasi, baik searah maupun imbal-balik. Banyak cara berkomunikasi yang dibangun oleh manusia dengan sesamanya, entah itu rekan kerja, atasan, bawahan, klien, suami-istri, adik-kakak, orangtua-anak, dai-umat, dan sebagainya. Ada tata laksana yang disepakati oleh manusia dalam berkomunikasi, yaitu efektif dan efisien, menyampaikan informasi dengan cara yang baik dan benar.
Dalam berkomunikasi, kita mengharapkan lawan komunikasi kita menangkap maksud dan memberi tanggapan atas apa yang kita sampaikan. Kita juga berharap mendapatkan tanggapan positif, kritik membangun, atau tindak lanjut yang membuat hubungan kita terjalin semakin erat dan bermanfaat.
Begitu juga dengan komunikasi yang kita jalin dengan Allah, saking cinta-Nya Dia terhadap hamba-hamba-Nya, Ia menghilangkan semua kesulitan berkomunikasi dan mengundang kita langsung untuk berbicara dan menyampaikan segala keperluan kita di hadapan-Nya. Jika sebagian umat manusia dengan ajaran agamanya membutuhkan perantara antara individu dengan Tuhan, maka Islam menghilangkan perantara itu, sehingga kita sebagai manusia dapat langsung berkomunikasi dengan Tuhan, yaitu melalui salat.
Sebagaimana etika komunikasi terbangun antara manusia, dengan Allah pun demikian. Pernah suatu ketika, Rasulullah saw. menegur seorang pemuda yang melakukan gerakan salat dengan sangat cepat seperti ayam yang mematuk-matuk tanah, agar ia mengulangi salatnya dengan tumakninah. Ini dapat dimisalkan dengan pembicaraan yang cepat, terburu-buru dan tanpa koma (apalagi titik) akan sulit dicerna oleh lawan bicara, dan dapat dianggap sebagai etika yang melanggar kesopanan.
Karenanya, kawan, jika kita ingin mempererat hubungan kita dengan Allah, mengapa kita enggan memperbaiki cara kita berkomunikasi dengan Dia?
IJS-13
Dalam berkomunikasi, kita mengharapkan lawan komunikasi kita menangkap maksud dan memberi tanggapan atas apa yang kita sampaikan. Kita juga berharap mendapatkan tanggapan positif, kritik membangun, atau tindak lanjut yang membuat hubungan kita terjalin semakin erat dan bermanfaat.
Begitu juga dengan komunikasi yang kita jalin dengan Allah, saking cinta-Nya Dia terhadap hamba-hamba-Nya, Ia menghilangkan semua kesulitan berkomunikasi dan mengundang kita langsung untuk berbicara dan menyampaikan segala keperluan kita di hadapan-Nya. Jika sebagian umat manusia dengan ajaran agamanya membutuhkan perantara antara individu dengan Tuhan, maka Islam menghilangkan perantara itu, sehingga kita sebagai manusia dapat langsung berkomunikasi dengan Tuhan, yaitu melalui salat.
Sebagaimana etika komunikasi terbangun antara manusia, dengan Allah pun demikian. Pernah suatu ketika, Rasulullah saw. menegur seorang pemuda yang melakukan gerakan salat dengan sangat cepat seperti ayam yang mematuk-matuk tanah, agar ia mengulangi salatnya dengan tumakninah. Ini dapat dimisalkan dengan pembicaraan yang cepat, terburu-buru dan tanpa koma (apalagi titik) akan sulit dicerna oleh lawan bicara, dan dapat dianggap sebagai etika yang melanggar kesopanan.
Karenanya, kawan, jika kita ingin mempererat hubungan kita dengan Allah, mengapa kita enggan memperbaiki cara kita berkomunikasi dengan Dia?
IJS-13
31.8.06
bikin $5 jadi $2000 ?
Saya tidak ingin menghina kecerdasan Anda dengan memberi mimpi yang muluk-muluk! Saya hanya memberi KEPASTIAN, dengan $5.00, Anda dapat memiliki SEMUA e-book dan software bestseller dunia!
klik
http://www.bestincome4life.biz/?ref=79
Saya TIDAK akan membuat salesletter hingga berbusa-busa. Kalaupun Anda GAGAL memasarkan sistem ini, dengan $5,00,- Anda sudah UNTUNG mendapatkan produk bermutu!
klik
http://www.bestincome4life.biz/?ref=79
klik
http://www.bestincome4life.biz/?ref=79
Saya TIDAK akan membuat salesletter hingga berbusa-busa. Kalaupun Anda GAGAL memasarkan sistem ini, dengan $5,00,- Anda sudah UNTUNG mendapatkan produk bermutu!
klik
http://www.bestincome4life.biz/?ref=79
30.8.06
hits4pay
Still Reading Commercial Emails For Free?
Receive Emails On Topics That Interests You
And Get Paid For It! Get $10 Just to signup!
http://hits4pay.com/members/index.cgi?duitgue
18.8.06
gunakan telinga, mata dan hati kita
manusia telah diberi anugerah pendengaran sejak masih menjadi janin di dalam rahim ibu. beberapa saat setelah lahir barulah indera penglihatannya berfungsi. sedangkan hati atau perasaan mulai dibina sejak mengalami sentuhan pertama dan semakin terasah seiring pengalaman emosi. ketiga indera ini adalah anugerah yang wajib kita syukuri, karena dengan ketiganya kita mengenal dunia, memasuki pengetahuan yang tiada batasnya.
ada 18 ayat alquran berbicara tentang pendengaran, 24 ayat tentang penglihatan, dan 175 ayat tentang hati atau perasaan. ini menunjukkan sebanyak apapun yang kita dengar tidaklah sebanyak pengetahuan yang mampu diraih dengan melihat, dan sebanyak apapun yang kita lihat, tetap harus ditimbang dengan hati.
pengetahuan yang kita peroleh dari pendengaran, penglihatan dan hati jika digunakan untuk kemaslahatan akan membawa manfaat yang besar bagi sesama maupun semesta, namun jika untuk kemudaratan, akan membawa kehancuran tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga alam ini. gunakan telinga, mata dan hati kita dengan bijak.
terlalu konseptual? ah tentu saja yang praktikal akan berbeda setiap kita, dan anda pun tahu bagaimana berlaku bijak bukan?
QS 23:78, 17:36
IJS-12
ada 18 ayat alquran berbicara tentang pendengaran, 24 ayat tentang penglihatan, dan 175 ayat tentang hati atau perasaan. ini menunjukkan sebanyak apapun yang kita dengar tidaklah sebanyak pengetahuan yang mampu diraih dengan melihat, dan sebanyak apapun yang kita lihat, tetap harus ditimbang dengan hati.
pengetahuan yang kita peroleh dari pendengaran, penglihatan dan hati jika digunakan untuk kemaslahatan akan membawa manfaat yang besar bagi sesama maupun semesta, namun jika untuk kemudaratan, akan membawa kehancuran tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga alam ini. gunakan telinga, mata dan hati kita dengan bijak.
terlalu konseptual? ah tentu saja yang praktikal akan berbeda setiap kita, dan anda pun tahu bagaimana berlaku bijak bukan?
QS 23:78, 17:36
IJS-12
11.8.06
singkirkan duri di jalan kita
dalam perjalanan akan ada begitu banyak hal kita jumpai, mulai dari yang menyenangkan hingga yang paling teruk kita alami. kadang-kadang pemandangan di atas bukit mampu membebaskan dada kita yang terhimpit masalah, namun jika menengok ke bawah jurang yang dalam, dapat pula mendebarkan jantung, khawatir jika terjatuh ke dalamnya.
dalam sebuah pengajian rasulullah saw. pernah menyampaikan beberapa tingkatan iman: yang tertinggi adalah meyakini dan mengucapkan kalimat tahlil "Laa ilaaha illallah" yaitu bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang patut diyakini, disembah dan jadi sandaran hidup kecuali Allah saja; kemudian yang paling rendah adalah menyingkirkan duri di jalan tempat berlalu orang-orang. beliau saw. juga menyampaikan bahwa dari setiap senyum kita kepada sesama adalah sedekah yang terhitung dalam akun pahala kita.
begitupun dalam perjalanan kita, kelelahan yang kita alami akan sirna begitu saja ketika kita menghadapinya dengan senyuman, keikhlasan dan berharap hanya keridaan Allah. pada setiap jalan yang kita lalui akan kita temui kerikil, batu sandungan bahkan duri penghalang yang mampu memupuskan harapan kita untuk meneruskan perjalanan.
padahal jika kita mampu mengumpulkan setiap kerikil dan batu yang kita temui, ia akan dapat kita susun sebagai tangga menuju kesuksesan. padahal jika kita mau menyingkirkan setiap duri dari jalan sehingga memudahkan orang lain berlalu dengan aman, ia akan menambah iman kita.
IJS-11
dalam sebuah pengajian rasulullah saw. pernah menyampaikan beberapa tingkatan iman: yang tertinggi adalah meyakini dan mengucapkan kalimat tahlil "Laa ilaaha illallah" yaitu bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang patut diyakini, disembah dan jadi sandaran hidup kecuali Allah saja; kemudian yang paling rendah adalah menyingkirkan duri di jalan tempat berlalu orang-orang. beliau saw. juga menyampaikan bahwa dari setiap senyum kita kepada sesama adalah sedekah yang terhitung dalam akun pahala kita.
begitupun dalam perjalanan kita, kelelahan yang kita alami akan sirna begitu saja ketika kita menghadapinya dengan senyuman, keikhlasan dan berharap hanya keridaan Allah. pada setiap jalan yang kita lalui akan kita temui kerikil, batu sandungan bahkan duri penghalang yang mampu memupuskan harapan kita untuk meneruskan perjalanan.
padahal jika kita mampu mengumpulkan setiap kerikil dan batu yang kita temui, ia akan dapat kita susun sebagai tangga menuju kesuksesan. padahal jika kita mau menyingkirkan setiap duri dari jalan sehingga memudahkan orang lain berlalu dengan aman, ia akan menambah iman kita.
IJS-11
14.7.06
menikmati keringanan salat
kawan, banyak pendapat mengenai keringanan salat ketika bepergian (safar). sebagian menganggap boleh saja meringkas (qashar) salat yang empat rakaat menjadi 2 rakaat saja, sebagian tetap mengerjakan jumlah rakaat yang sama hanya saja salatnya digabungkan (jamak) yaitu zuhr-ashr dan maghrib-isya, sebagian malah meringkas dan menggabungkan, tetapi ada juga yang berpendapat kalau memiliki waktu yang luang alangkah lebih baik untuk tetap mendirikan salat tanpa diringkas atau digabung. dan masing-masing pendapat memiliki referensi hadist yang benar.
salat adalah ibarat hutang kita kepada Allah. bagaimanakah kita jika kita berhutang sebanyak Rp5 juta kepada seseorang kemudian orang tersebut memberi keringanan kepada kita untuk membayar hanya Rp3 juta saja dan hutang kita dianggap lunas? wah, pemurah sekali orang itu ya? apalagi dong, Allah pasti Mahapemurah :)
orang yang dalam perjalanan tetap mendirikan salat (baik itu diringkas, digabung, atau seperti biasa) yang jelas mereka telah menunaikan kewajiban mereka kepada Allah. daripada mempertikaikan pendapat tersebut, bukankah lebih baik kita mengingatkan kawan-kawan kita yang belum salat? :)
IJS-10
salat adalah ibarat hutang kita kepada Allah. bagaimanakah kita jika kita berhutang sebanyak Rp5 juta kepada seseorang kemudian orang tersebut memberi keringanan kepada kita untuk membayar hanya Rp3 juta saja dan hutang kita dianggap lunas? wah, pemurah sekali orang itu ya? apalagi dong, Allah pasti Mahapemurah :)
orang yang dalam perjalanan tetap mendirikan salat (baik itu diringkas, digabung, atau seperti biasa) yang jelas mereka telah menunaikan kewajiban mereka kepada Allah. daripada mempertikaikan pendapat tersebut, bukankah lebih baik kita mengingatkan kawan-kawan kita yang belum salat? :)
IJS-10
Subscribe to:
Posts (Atom)
